Indonesian subtitles

← Kisah bola mata yang hilang - Nathan D. Horowitz

Get Embed Code
21 Languages

Showing Revision 4 created 12/25/2020 by Ade Indarta.

  1. Jauh di pedalaman hutan hujan Amazon
    di sungai Nea’ocoyá,
  2. tinggallah,
    menurut legenda Siekopai,
  3. sekelompok ikan
    yang sangat besar dan lezat.
  4. Saat hujan turun dan air naik,
    ikan-ikan itu muncul,

  5. dan pergi saat air surut.
  6. Penduduk desa di sepanjang sungai
    menikmati karunia sesekali ini,
  7. dan mereka menginginkan lebih.
  8. Mereka mengikuti kelompok ikan itu
    sampai ke hulu jauh di dalam hutan
  9. sampai ke sebuah laguna yang dipenuhi
    bisingnya kepakan ikan.
  10. Seisi desa mendirikan kemah
    di samping laguna,

  11. membawa barbasco, racun yang dimasukkan
    ke dalam air untuk melumpuhkan ikan.
  12. Sementara itu, dukun muda desa
    berjalan-jalan.
  13. Dia punya firasat bahwa
    dia mungkin tak sepenuhnya sendiri.
  14. Kemudian, sampailah ia ke pohon
    monse yang berdengung kencang
  15. sampai-sampai suaranya terdengar
    melebihi riuhnya suara ikan.
  16. Maka, ia pun yakin:
    roh-roh tinggal di sini.
  17. Di perkemahan, dia memperingatkan
    bahwa ikan-ikan itu ada pemiliknya.

  18. Dia akan mencari sang pemilik.
  19. Sampai dia kembali, tak boleh
    ada siapa pun yang memancing.
  20. Pergilah ia ke pohon yang berdengung.

  21. Di dalamnya, ada ruang sebesar rumah,
    dipenuhi penganyam yang sibuk.
  22. Pemimpin mereka mengundangnya masuk,
  23. ia mengatakan bahwa buah siripia kecil
    yang berair sudah matang,
  24. dan mereka tengah menganyam
    keranjang untuk memanennya.
  25. Walau mereka terlihat
    dan berlaku seperti manusia,
  26. si dukun tahu mereka adalah juri,
    atau jin udara,
  27. yang bisa terbang dan mengendalikan angin.
  28. Mereka mengajarinya cara menganyam.
  29. Sebelum si dukun pergi,

  30. pemimpin jin membisikkan beberapa
    petunjuk samar-samar di telinganya.
  31. Terakhir, dia menyuruhnya mengikat
    tunas nanas di luar kayu berongga
  32. dan tidur di dalam malam itu.
  33. Di perkemahan, penduduk desa memancing
    dengan barbasco, memasak, dan bersantap.

  34. Hanya adik perempuan sang dukun
    yang tidak ikut-ikutan.
  35. Lalu, semua orang jatuh tertidur.
  36. Sang dukun dan adik perempuannya
    berteriak dan mengguncang mereka,
  37. tapi mereka tak terbangun.
  38. Hari semakin gelap,
    jadi sang dukun dan adiknya

  39. mengikat tunas nanas di luar
    batang berongga dan masuk ke dalam.
  40. Angin kencang mulai bertiup—
    pertanda para jin udara.
  41. Ranting-ranting patah
    dan pepohonan tumbang.
  42. Kaiman, ular boa, dan jaguar mengaum.
  43. Air mulai naik.
  44. Ikan-ikan melompat dari rak pengering
    dan berenang menjauh.
  45. Tunas nanas tadi berubah
    menjadi seekor anjing.

  46. Ia menggonggong semalaman,
    mengusir makhluk hutan dari pohon tumbang.
  47. Saat fajar menyingsing,
    banjir pun surut.

  48. Ikan-ikan itu hilang, demikian pula
    sebagian besar penduduk desa:
  49. para hewan hutan telah memangsa mereka.
  50. Hanya keluarga sang dukun yang selamat.
  51. Saat mereka berbalik ke arahnya,
  52. sang dukun sadar maksud para jin
    tentang buah-buahan yang masak:
  53. mereka tidak sedang mengumpulkan
    buah siripia sama sekali,
  54. tetapi mata manusia.
  55. Kakak perempuan sang dukun memanggilnya,

  56. ia mencoba menyentuh wajahnya
    dengan kukunya yang panjang dan tajam.
  57. Dia mundur, teringat petunjuk
    sang pemimpin bangsa jin,
  58. ia melempar biji palem ke wajahnya.
  59. Biji-bijian itu menjadi mata.
  60. Namun, dia kemudian berubah menjadi
    peccary bermoncong putih dan lari—
  61. masih hidup, tetapi bukan lagi manusia.
  62. Seluruh komunitas sang dukun
    dan adiknya sudah hilang.

  63. Mereka pun pergi
    dan menetap di desa lain,
  64. di mana mereka mengajari penduduk
    cara menganyam keranjang seperti para jin.
  65. Namun, dia tak bisa melupakan
    kata-kata terakhir sang pemimpin jin,

  66. yang memberitahunya
    cara membalas dendam.
  67. Dia kembali ke rumah para jin udara
    membawa cabai rawit yang dibungkus daun.
  68. Saat para jin mengamatinya
    lewat lubang pengintip,

  69. sang dukun menyalakan api
    dan menaruh cabai rawit di dalamnya.
  70. Asap dari api mulai memenuhi pohon itu.
  71. Para jin yang memakan
    mata manusia pun mati.
  72. Mereka yang tidak,
    cukup ringan untuk terbang menjauh.
  73. Maka para jin, seperti para manusia,
    harus membayar mahal.

  74. Namun, mereka juga hidup
    untuk bercerita, seperti sang dukun.
  75. Dalam legenda Siekopai,
    tempat dunia roh dan manusia bertemu,
  76. tidak ada pemenang sejati,
  77. bahkan kematian adalah
    kesempatan untuk pembaruan.