Indonesian subtitles

← Cerita rakyat Jepang tentang pendeta yang egois - Iseult Gillespie

Get Embed Code
24 Languages

Showing Revision 5 created 12/18/2020 by Ade Indarta.

  1. Di Kyoto kuno, seorang pendeta Shinto
    yang taat menjalani hidup sederhana,
  2. tetapi kadang ia terganggu oleh
    keramaian kota saat sedang berdoa.
  3. Ia merasa tetangganya mencemari jiwanya,
  4. dan ia berusaha melakukan semacam
    harae pribadi—
  5. sebuah ritual yang akan membersihkan
    jiwa dan pikirannya.
  6. Ia memutuskan untuk pergi
    ke Kuil Hie yang dihormati.

  7. Perjalanan itu berupa pendakian sulit
    yang memakan waktu seharian.
  8. Namun, ia menyukai kesendirian yang
    ia dapatkan,
  9. dan kedamaian yang ia rasakan saat pulang
    sangatlah mendalam.
  10. Pendeta itu bertekad untuk mempertahankan
    keheningan ini selama mungkin,
  11. dan memutuskan untuk berziarah
    sebanyak 99 kali lagi.
  12. Ia berjalan sendirian, mengabaikan
    gangguan dalam pencarian keseimbangan,
  13. dan tidak pernah menyimpang
    dari tujuannya.
  14. Pria itu menepati kata-katanya,
    seiring hari berganti minggu,

  15. ia berjalan melalui hujan lebat
    dan terik matahari.
  16. Seiring waktu, pengabdiannya mengungkap
    dunia roh yang tidak terlihat
  17. yang berdampingan dengan dunia kita.
  18. Ia mulai bisa merasakan Kami,
    menjelma sebagai batu di bawah kakinya.
  19. angin sepoi-sepoi yang menyejukkannya,
    juga hewan-hewan yang ada di tanah lapang.
  20. Ia tetap tak berbicara pada siapa pun,
    baik roh maupun manusia.

  21. Ia bertekad untuk tidak menjalin kontak
    dengan mereka yang menyimpang
  22. dari jalur yang seharusnya
    dan tercemari oleh kegare.
  23. Larangan tabu ini juga berlaku
    untuk mereka yang sakit dan sudah tiada
  24. juga bagi mereka yang mengotori tanah
    atau melakukan tindakan kriminal.
  25. Dari semua ancaman selama
    perjalanan spiritualnya,
  26. kegare merupakan ancaman terbesar.
  27. Setelah melakukan ziarah yang ke-80 kali,

  28. ia hendak kembali pulang.
  29. Namun, seiring hari menjadi gelap,
    ia mendengar sebuah tangisan tak wajar.
  30. Pendeta itu berusaha terus berjalan
    dan mengabaikan rintihan tersebut.
  31. Namun, tangisan putus asa membebaninya.
  32. Sambil meringis, ia pun keluar dari jalur
    dan mengikuti sumber suara itu.
  33. Ia kemudian sampai di sebuah gubuk kecil,
    dengan seorang wanita terkulai di luar.

  34. Merasa kasihan, sang pendeta meminta
    wanita tersebut mencurahkan kesedihannya.
  35. Ia berkata ibunya baru saja wafat,
  36. tetapi tidak seorang pun sudi
    membantu pemakamannya.
  37. Mendengarnya, hati sang pendeta hancur.
  38. Menyentuh jenazah tersebut
    akan mencemari jiwanya,
  39. menguras energi kehidupannya
    dan membuatnya diabaikan oleh Kami.
  40. Namun, seiring dengan tangisan wanita itu,
    simpatinya memuncak.
  41. Akhirnya, mereka mengubur
    jenazah wanita tua itu bersama,
  42. untuk memastikan perjalanannya
    menuju dunia roh baik-baik saja.
  43. Pemakaman selesai, tetapi pantangan itu
    amat membebani sang pendeta.

  44. Bagaimana bisa ia bersikap begitu egois,
  45. sampai melalaikan peraturan penting
    dan merusak perjalanan sucinya?
  46. Setelah merasa tersiksa semalaman,
  47. ia memutuskan kembali ke kuil
    untuk menyucikan dirinya.
  48. Betapa terkejutnya ia, kuil sepi
    yang biasa ia datangi kini dipenuhi orang,

  49. berkumpul mengelilingi seorang perantara
    yang berkomunikasi dengan Kami.
  50. Pria itu bersembunyi, enggan mendekat,
    takut jiwanya yang tercemar terlihat.
  51. Namun, sang perantara dapat melihatnya,
    dan memanggilnya keluar dari kerumunan.
  52. Siap diabaikan, si pendeta pun
    mendekati sang wanita suci.

  53. Namun, sang perantara hanya tersenyum.
  54. Ia menggenggam tangan kotor pendeta itu,
  55. dan membisikkan berkat
    yang hanya bisa didengar sang pendeta—
  56. ia berterima kasih atas kebaikannya.
  57. Saat itulah sang pendeta menemukan
    sebuah rahasia spiritual:
  58. kontaminasi dan kerusakan
    adalah dua hal yang amat berbeda.
  59. Merasa terilhami, sang pendeta
    kembali melakukan perjalanan.

  60. Namun, kali ini, ia berhenti untuk
    membantu mereka yang ia temui.
  61. Ia mulai melihat keindahan dunia roh
    ke mana pun ia pergi,
  62. bahkan di kota yang sebelumnya ia hindari.
  63. Banyak yang memperingatkan
    bahwa ia tercemar kegare,
  64. tetapi ia tidak pernah menjelaskan
    alasan ia bergaul
  65. dengan mereka yang sakit dan malang.
  66. Karena ia yakin seseorang hanya akan
    memahami harae sepenuhnya
  67. dari perjalanan mereka sendiri.