Indonesian subtitles

← 7 anggapan yang dapat membungkam perempuan -- dan cara meninggalkannya

Get Embed Code
32 Languages

Showing Revision 28 created 03/14/2020 by Ade Indarta.

  1. "Seorang perempuan harus
    dilihat, bukan didengar."
  2. "Diamlah," atau, "chup."
  3. Kata-kata ini sering dipakai membungkam
    perempuan sejak kecil,
  4. hingga dewasa
  5. bahkan hingga usia tua.
  6. Aku bangga memperkenalkan pembicara
    berikutnya, juara sejati suara perempuan,

  7. penasihat tentang kemiskinan,
  8. gender dan pembangunan untuk Bank Dunia,
  9. PBB dan beberapa LSM di India dan
    seluruh dunia.
  10. Dia menyebut dirinya seorang
    detektif budaya.
  11. Mari sambut ilmuwan sosial dan
    penulis kenamaan
  12. Deepa Narayan.
  13. (Musik)

  14. (Tepuk tangan)

  15. Tujuan setiap orang tua adalah

  16. membesarkan anak perempuan yang baik,
  17. tapi yang mereka lakukan
  18. adalah memaksa, mengurung dan
    menindas anak perempuan mereka.
  19. Saat menindas mereka,
  20. mereka dipersiapkan untuk siksaan.
  21. Ini sangat menyedihkan
  22. hingga tak akan ada orang tua yang tahan,
  23. jadi itu disembunyikan.
  24. Di India, kami menyebutnya
    "membiasakan diri."

  25. Aku yakin kamu pernah mendengarnya.
  26. "Sayang, biasakan diri saja sedikit."
  27. Biasakan diri saja.
  28. Apa pun yang terjadi, biasakan diri saja."
  29. "Membiasakan diri" membuat anak
    perempuan tak berdaya,
  30. tak berwujud, tak terlihat,
  31. tak memiliki jati diri,
  32. dan melatih anak laki-laki mengklaim
    kekuatan dan kekuasaan di dunia.
  33. Sementara kita bicara tentang kesetaraan
    gender dan pemberdayaan perempuan.
  34. Setelah pemerkosaan berkelompok
    dalam bis di Delhi tahun 2012,

  35. aku sangat ingin memahami akar kekerasan.
  36. Jadi aku mulai menanyakan
    pertanyaan sederhana:
  37. apa artinya menjadi seorang perempuan
    atau laki-laki yang baik bagimu?
  38. Aku sangat terkejut dengan apa
    yang kudengar,
  39. khususnya jawaban para anak muda,
  40. hingga proyek ini menjadi penelitian
    yang menyita hidupku.
  41. Selama tiga tahun, aku bertemu lebih dari
    600 perempuan, laki-laki, dan anak-anak,

  42. terpelajar, kelas menengah,
  43. yang mencapai 1.800 jam wawancara
  44. dan 8.000 halaman catatan,
  45. dan butuh satu tahun untuk memahaminya.
  46. Saat ini, kita melihat perempuan yang rapi
    dan terpelajar seperti kamu di sini,

  47. kamu semua, termasuk diriku,
  48. dan kita pikir dunia sudah berubah,
  49. tapi perubahan eksternal ini
    sangat menyesatkan,
  50. karena di dalam kita belum berubah.
  51. Hari ini, aku tak akan bicara
    tentang orang miskin.

  52. Aku akan bicara tentang
    kelas menengah dan atas,
  53. karena kitalah yang paling menyangkal.
  54. Kita yang berulang kali mengatakan
  55. bahwa ketika kaum perempuan terpelajar,
  56. ketika mereka punya karier
  57. dan berpenghasilan,
  58. mereka akan setara, berdaya, dan bebas.
  59. Tidak seperti itu.
  60. Kenapa?
  61. Dari penelitianku, ada tujuh kebiasaan

  62. yang menghapus perempuan,
  63. yang melenyapkan perempuan,
  64. namun kebiasaan ini tetap ada
  65. karena mereka begitu familiar
  66. dan kita membuatnya baik dan bermoral.
  67. Kenapa sesuatu yang baik dan bermoral
    harus diubah atau dihapus?
  68. Di satu sisi, kita mencintai
    anak-anak kita,
  69. anak perempuan kita,
  70. di lain sisi, kita menghancurkan mereka.
  71. Kebiasaan pertama: Kau tak punya raga.

  72. Langkah awal menjadikan mereka hantu
    adalah dengan melenyapkan raganya,
  73. menganggap dia tak bertubuh.
  74. Akangsha, 23 tahun, mengatakan,
  75. "Dalam keluargaku, kami tak pernah
    bicara tentang tubuh, tak pernah."
  76. Dan dalam kebisuan inilah
  77. jutaan perempuan dianiaya secara seksual,
  78. mereka bahkan tak mengadu pada ibunya.
  79. Komentar negatif dari orang lain inilah
  80. yang membuat 90 persen perempuan
    membenci tubuh mereka.
  81. Ketika seorang gadis menolak tubuhnya,
  82. dia menolak satu-satunya rumahnya
  83. ketakkasatmataan dan kegelisahan
  84. menjadi asasnya yang goyah.
  85. Kebiasaan kedua: Diamlah. Chup.

  86. Jika kau tak seharusnya ada
  87. dan tak punya raga,
  88. bagaimana mungkin punya suara?
  89. Seperti yang dikatakan tiap perempuan,
  90. "Saat aku kecil, ibuku sering mengomel
    dan berkata,
  91. 'Jangan bicara, diam, chup,
  92. bicara pelan-pelan, jangan berdebat,
    dan jangan membantah.
  93. Jawab nahi Dena.'"
  94. Pasti kamu pernah mendengarnya.
  95. Anak perempuan jadi ketakutan,
    dan menarik diri.
  96. Mereka jadi pendiam dan berkata,
  97. "Ikhlaskan saja. Jaane do.
  98. Apa gunanya? Tak ada yang mendengar."
  99. Perempuan terpelajar berkata
  100. masalah utama mereka
  101. adalah ketidakmampuan untuk bicara,
  102. seperti ada kaki di kerongkongan mereka
  103. yang siap mencekik mereka.
  104. Kebisuan menyayat perempuan.
  105. Kebiasaan ketiga: Penyenang orang lain.

  106. Buatlah orang lain senang.
  107. Semua orang suka perempuan yang
    selalu tersenyum,
  108. yang tak pernah berkata tidak,
    tak pernah marah,
  109. bahkan ketika dia dieksploitasi.
  110. Amisha, 18 tahun, berkata,
  111. "Ayahku bilang,
  112. 'Jika kau tak tersenyum, aku resah.'"
  113. Jadi dia tersenyum.
  114. Ayahnya mengajarkan kepadanya,
  115. kebahagiaanku lebih penting
    dari kebahagiaanmu.
  116. Karena selalu berusaha membuat
    orang lain senang,
  117. anak perempuan jadi takut
    mengambil keputusan.
  118. Jika kau bertanya, mereka bilang,
  119. "Masa bodoh! Kuch bhi!
  120. Tidak mengapa. Chalta hai."
  121. Darsha, 25 tahun,
  122. berkata dengan bangga,
  123. "Aku sangat luwes.
  124. Aku bisa jadi apa pun yang
    orang lain mau."
  125. Anak-anak perempuan seperti itu
    membuang impiannya,
  126. hasratnya,
  127. bahkan tak ada yang menyadari,
  128. kecuali depresi.
  129. Yang merasuki.
  130. Satu bagian lagi dari anak perempuan
    yang hilang.
  131. Kebiasaan keempat:
    Kau tak punya seksualitas.

  132. Pasti kamu semua setuju, dengan
    populasi lebih dari 1,3 miliar,
  133. seks bukan hal baru di India.
  134. Yang baru adalah
    makin banyak yang mengakui
  135. bahwa perempuan pun, punya hak
    memiliki hasrat seks.
  136. Tapi bagaimana seorang perempuan yang
    bahkan tak boleh memiliki tubuhnya,
  137. yang tak dididik tentang tubuhnya,
  138. yang mungkin pernah dilecehkan
    secara seksual,
  139. yang tak bisa bilang tidak
  140. dan yang dipenuhi rasa malu,
  141. bagaimana dia mengklaim hasrat seksualnya?
  142. Seksualitas perempuan ditindas.
  143. Kebiasaan kelima: Jangan percaya
    pada perempuan.

  144. Bayangkan bagaimana dunia akan berubah
  145. jika perempuan bergabung dalam solidaritas
  146. tapi untuk memastikan itu tak terjadi,
  147. budaya kita menerapkan
    nilai moral yang tinggi
  148. dalam kesetiaan pada laki-laki
    dan rahasia keluarga.
  149. Setiap perempuan berkata,
  150. "Aku hanya tahu satu perempuan
    yang dapat dipercaya,
  151. dan itu adalah aku."
  152. Bahkan Ruchi, 30 tahun
  153. yang meneliti pemberdayaan perempuan
    di Universitas Delhi, berkata,
  154. "Aku tak percaya perempuan.
    Mereka pencemburu dan suka memfitnah."
  155. Karena itu, tentu saja, di perkotaan,
  156. perempuan tak berkelompok,
  157. jika ditanya kenapa, mereka berkata,
    "Kami tak ada waktu bergosip."
  158. Jauh lebih mudah menyingkirkan
    perempuan yang sendirian.
  159. Kebiasaan keenam: Tugas daripada hasrat.

  160. Muskan berkisah panjang lebar tentang
    perempuan yang baik, dan dia baru 15 tahun
  161. "Dia baik, ramah, sopan, penyayang,
  162. peduli, jujur, patuh,
    menghargai orang tua,
  163. menolong siapa saja, baik pada sesama,
    dan memenuhi kewajibannya."
  164. Melelahkan, bukan?
  165. Ketika kau memenuhi tugasmu,
  166. hasrat sekecil apa pun yang tersisa
    akan hilang.
  167. Ketika para ibu yang berkorban
    tak punya apa-apa lagi untuk dikatakan
  168. kecuali tentang makanan --
  169. "Apa kau sudah makan? Khana kha liya?
    Apa yang akan kau makan? --
  170. Pria seperti Saurabh, 24 tahun,
    menyebutnya "membosankan."
  171. Seorang perempuan menjadi residu.
  172. Kebiasaan ketujuh: Bergantunglah penuh.

  173. Semua kebiasaan ini secara kolektif
    menghancurkan perempuan,
  174. memenuhinya dengan rasa takut
  175. membuat mereka tergantung pada
    laki-laki untuk bertahan,
  176. dan ini membuat sistem kekuatan
    laki-laki terus berlanjut.
  177. Ketujuh kebiasaan yang kita anggap
    baik dan bermoral

  178. merenggut kehidupan perempuan
  179. dan posisi yang disalahgunakan lelaki.
  180. Kita harus berubah.

  181. Bagaimana caranya?
  182. Kebiasaan hanya sekedar kebiasaan.
  183. Tiap kebiasaan itu dipelajari,
  184. jadi kita bisa meninggalkannya
  185. perubahan personal ini sangat penting.
  186. Aku juga harus berubah.
  187. Tapi ini tak mengubah sistem
  188. yang menghancurkan jutaan perempuan lain.
  189. Jadi kita harus kembali ke akarnya.
  190. Kita harus mengubah apa yang dimaksud
    perempuan dan laki-laki yang baik,
  191. karena inilah dasar setiap masyarakat.
  192. Kita tak butuh perempuan luwes,
    kita butuh definisi yang luwes,
  193. juga untuk laki-laki,
  194. perubahan masyarakat yang besar ini
    mustahil tanpa keterlibatan laki-laki.
  195. Kami membutuhkan kalian.
  196. Kami mau laki-laki menjadi
    pendorong perubahan,
  197. untuk menumbuhkan otot perubahan
    yang kuat.
  198. Atau, baru dua abad lagi
  199. sebelum anak-anak perempuan dan
    laki-laki kita,
  200. menjadi aman dan bebas.
  201. Bayangkan setengah miliar perempuan
    bersama-sama, didukung oleh laki-laki,

  202. untuk berdiskusi, demi perubahan,
  203. baik personal maupun politis,
  204. bayangkan jika laki-laki
    di kalangannya sendiri,
  205. dan bayangkan perempuan dan laki-laki
    saling mendengar satu sama lain
  206. tanpa menghakimi, tanpa menyalahkan,
  207. tanpa menuduh dan tanpa mempermalukan.
  208. Bayangkan betapa kita bisa berubah.
  209. Kita bisa melakukan ini bersama-sama.
  210. Perempuan, jangan membiasakan diri.
  211. Laki-laki, biasakanlah diri.
  212. Ini waktunya.
  213. Terima kasih.

  214. (Tepuk tangan)

  215. SRK: Betul sekali, bagus sekali.

  216. Hadirin sekalian, Deepa.
  217. Mendengarkannya, aku sadar
  218. dalam komunikasi paling sederhana
    sekali pun dengan perempuan,
  219. sebenarnya kita tengah agresif.
  220. Contoh, kadang aku berkata
    pada anak perempuanku,
  221. "Sayang, jika kau tertawa aku bahagia,
    jika tidak, aku sedih."
  222. Maaf, aku tak akan melakukannya.
  223. Mulai hari ini akan kukatakan padanya.
  224. Apa pun yang kau lakukan,
  225. apapun yang kau lakukan, aku akan senang
  226. Jika tidak, bukan urusanku
    lakukanlah hal kau suka, betul?
  227. (Tepuk tangan)

  228. Apa yang kau rasakan,

  229. saat mendengar tentang banyak
    cerita dan hasrat yang tak terpenuhi,
  230. kurangnya kemandirian,
  231. dari para perempuan
    yang kita pikir lebih baik?
  232. Sangat tertekan.

  233. Aku sangat terkejut, karena itu
    aku tak bisa berhenti,
  234. karena aku tak berencana meneliti
    dan menulis sebuah buku.
  235. Aku sudah menulis 17 buku sebelumnya,
    dan kupikir, "sudah cukup,"
  236. tapi ketika aku pergi ke
    Kampus St.Stephen
  237. di kampus paling elit di Delhi,
  238. pendapat para pemudi dan pemuda ini,
  239. tentang apa artinya bagi mereka menjadi
    seorang perempuan dan laki-laki
  240. tidak terdengar sepertiku, tapi
    seperti generasi ibuku.
  241. Jadi aku pergi ke banyak kampus lain.
  242. Yang menarik bagiku adalah
  243. tiap perempuan merasa dia sendirian,
  244. dia menyembunyikan rasa takut
    dan tingkah lakunya,
  245. karena dia pikir itu adalah kesalahannya.
  246. Itu bukan kesalahan, tapi didikan,
  247. kupikir penyingkapan terbesar adalah
  248. jika kita berhenti berpura-pura,
  249. maka dunia akan berubah.
  250. Apakah semua perempuan di sini
    setuju dengan Deepa?

  251. (Tepuk tangan)

  252. Aku melihat gadis di sana berkata,

  253. "Dengar apa katanya?
    Kau mengatakan ini padaku."
  254. Ya, begitulah seharusnya.
  255. Pria, biasakanlah diri. Kita tak akan
    melakukannya lagi, oke?
  256. (Tepuk tangan)

  257. Terima kasih. Selamat malam.
    Terima kasih.

  258. (Tepuk tangan)