YouTube

Got a YouTube account?

New: enable viewer-created translations and captions on your YouTube channel!

Indonesian subtitles

← Dampak psikologis pemisahan anak di perbatasan AS-Meksiko

Get Embed Code
21 Languages

Showing Revision 18 created 11/10/2019 by Ade Indarta.

  1. Selama 40 tahun lebih,
    saya menjadi pekerja sosial klinis
  2. dan psikolog perkembangan.
  3. Sepertinya tidak aneh saya menekuni
    profesi yang membantu orang lain.
  4. Orang tua saya mengajarkan
    berbuat baik kepada orang lain.
  5. Jadi, saya mengabdikan karier saya
  6. untuk bekerja dengan keluarga
    yang menghadapi kondisi paling berat:
  7. kemiskinan, penyakit jiwa,
  8. imigrasi, pengungsi.
  9. Dan selama bertahun-tahun,
    saya dipenuhi harapan dan optimisme.
  10. Tapi, selama lima tahun terakhir,

  11. harapan dan optimisme saya diuji.
  12. Saya sangat kecewa dengan cara
    pemerintah Amerika Serikat
  13. menangani keluarga yang datang
    dari perbatasan selatan kita,
  14. mencari suaka,
  15. orang tua putus asa dengan anak-anak,
    dari El Salvador, Guatemala, dan Honduras,
  16. yang hanya ingin anak-anak mereka
    aman dan selamat.
  17. Mereka kabur dari sebagian
    kekerasan terparah di dunia.
  18. Mereka diserang kawanan geng,
  19. dianiaya, diperkosa, diperas, diancam.
  20. Mereka menghadapi maut.
  21. Dan mereka tak bisa mengandalkan
    polisi karena aparat di sana terlibat,
  22. korup, tidak efektif.
  23. Jadi, mereka datang
    ke perbatasan kita,
  24. dan kita memasukkan mereka
    ke pusat detensi,
  25. penjara, seolah mereka penjahat biasa.
  26. Tahun 2014, saya bertemu beberapa
    anak pertama di pusat detensi.

  27. Dan saya menangis.
  28. Saya duduk di mobil setelah itu
    dan menangis.
  29. Saya melihat penderitaan terburuk
    yang pernah saya ketahui,
  30. yang melanggar semua yang
    saya yakini di negara saya,
  31. aturan hukum
  32. dan semua ajaran orang tua saya.
  33. Cara Amerika Serikat
    menangani imigran

  34. pencari suaka
    di negara kita
  35. selama lima tahun terakhir,
  36. sudah jelas keliru.
  37. Malam ini, saya ingin menyampaikan
    anak-anak di detensi imigrasi
  38. mengalami trauma.
  39. Dan kitalah penyebabnya.
  40. Kita orang Amerika,
  41. bahkan yang hadir di sini malam ini,
  42. belum tentu berpikiran
    sama soal imigrasi.
  43. Kita mungkin tak sependapat dalam
    cara menangani orang-orang
  44. yang ingin datang ke negara kita.
  45. Sesungguhnya, bagi saya tidak penting
    apakah Anda Republik atau Demokrat,
  46. liberal atau konservatif.
  47. Saya ingin perbatasan yang aman.
  48. Saya juga ingin menjauhkan orang jahat.
  49. Saya ingin keamanan nasional.
  50. Dan tentu saja, Anda punya konsep
    sendiri tentang masalah itu.
  51. Tapi saya rasa kita bisa sepakat
  52. bahwa Amerika tidak boleh
    berbuat jahat.
  53. Pemerintah, negara bagian,
    tidak boleh menyakiti anak-anak.
  54. Amerika seharusnya
    melindungi mereka,
  55. anak siapa pun itu:
  56. anak Anda, cucu saya
  57. dan anak para keluarga
    yang hanya mencari suaka.
  58. Saya bisa menceritakan
    kisah demi kisah

  59. anak-anak yang menyaksikan
    sebagian kekerasan terparah di dunia
  60. dan kini mendekam di detensi.
  61. Tapi ada dua anak lelaki yang tak bisa
    saya lupakan selama lima tahun terakhir.
  62. Salah satunya Danny.
  63. Danny berumur 7,5 tahun ketika saya
    temui di pusat detensi
  64. di Karnes City, Texas, tahun 2014.
  65. Dia di sana bersama ibu
    dan adiknya.
  66. dan mereka kabur dari Honduras.
  67. Danny jenis anak yang langsung
    membuat jatuh cinta.
  68. Dia lucu, polos,
  69. memesona, dan sangat ekspresif.
  70. Dia membuat gambar untuk saya,
  71. dan salah satu yang digambarnya
    adalah Revos Locos.
  72. Revos Locos: inilah nama
  73. yang diberikan kepada geng
    di kota tempat tinggalnya dulu.
  74. Saya berkata kepada Danny,
  75. "Danny, kenapa mereka orang jahat?"
  76. Danny menatap saya dengan bingung.
  77. Tatapannya lebih mirip,
  78. "Kamu ini polos atau tolol?"
  79. (Tertawa)

  80. Dia mendekat dan berbisik,

  81. "Memangnya kamu tidak lihat?
  82. Mereka merokok."
  83. (Tertawa)

  84. "Dan mereka minum bir."

  85. Danny, tentu saja, sudah tahu tentang
    keburukan minum-minum dan merokok.
  86. Kemudian, "Dan mereka bersenjata."
  87. Di salah satu gambar,
  88. anggota Revos Locos menembaki
    burung dan orang-orang.
  89. Danny bercerita tentang pamannya
    yang dibunuh Revos Locos
  90. dan bagaimana dia lari dari rumah
    menuju peternakan pamannya,
  91. hanya untuk melihat mayat sang paman,
  92. wajahnya rusak diterjang peluru.
  93. Danny juga bilang dia melihat gigi
    pamannya mencuat dari balik tengkuknya.
  94. Saat itu Danny baru enam tahun.
  95. Tak lama setelah itu,
  96. salah satu anggota Revos Locos
    memukuli Danny, habis-habisan,
  97. dan saat itulah orang tuanya berkata,
  98. "Kita harus pergi atau
    dibunuh mereka."
  99. Jadi mereka kabur.

  100. Tapi ayah Danny berkaki buntung
    dan memakai tongkat,
  101. dan dia tak sanggup melewati
    medan yang keras.
  102. Jadi dia berkata
    kepada istrinya,
  103. "Pergilah tanpa aku.
    Bawa anak-anak kita.
  104. Selamatkan
    anak-anak kita."
  105. Jadi Ibu dan anak-anak berangkat.
  106. Danny bercerita, dia menoleh,
    berpamitan kepada ayahnya,
  107. berulang kali menoleh hingga
    ayahnya lenyap dari pandangan.
  108. Di detensi, dia belum mendengar
    kabar dari ayahnya.
  109. Kemungkinan besar ayahnya
    dibunuh Revos Locos,
  110. karena mencoba kabur.
  111. Saya tak bisa melupakan Danny.
  112. Anak satu lagi bernama Fernando.

  113. Fernando ada di pusat
    detensi yang sama,
  114. usianya sepantar Danny.
  115. Fernando bercerita tentang 24 jam
    berada di ruang isolasi bersama ibunya
  116. di pusat detensi,
  117. ditempatkan di sana karena
    ibunya memimpin mogok makan
  118. di kalangan para ibu di pusat detensi,
  119. dan kini mental ibunya terganggu
    di bawah tekanan penjaga,
  120. yang mengancam dan sangat kasar
    kepadanya dan Fernando.
  121. Saat saya dan Fernando mengobrol
    di kantor kecil itu,
  122. ibunya menerobos masuk,
  123. dan dia berkata, "Mereka menguping!
    Mereka mendengarmu."
  124. Dan dia jatuh berlutut,
  125. dan mulai memeriksa kolong meja,
    meraba bagian bawah semua kursi.
  126. Dia memeriksa soket listrik,
  127. di sudut ruangan,
  128. lantai, sudut langit-langit,
  129. lampu, ventilasi udara, mencari
    mikrofon dan kamera tersembunyi.
  130. Saya mengawasi Fernando
    mengawasi ibunya yang lambat laun
  131. semakin paranoid.
  132. Saya menatap mata Fernando
    dan melihat ketakutan total.
  133. Lagi pula, siapa yang bisa merawat dirinya
    jika ibunya tidak bisa?
  134. Mereka hanya berdua.
    Tak ada orang lain.
  135. Masih banyak lagi cerita
    yang bisa saya sampaikan,
  136. tapi saya tak pernah
    melupakan Fernando.
  137. Dan saya tahu bagaimana
    dampak trauma,
  138. stres, dan cobaan macam
    itu pada anak-anak.
  139. Jadi, untuk sejenak saya mengajak
    Anda berpikir klinis,
  140. dan saya akan berbicara
    sesuai profesi saya.
  141. Di bawah stres yang
    berkepanjangan dan intens,

  142. trauma, kesulitan, cobaan,
    kehidupan yang keras,
  143. otak yang sedang berkembang
    akan rusak,
  144. sesederhana itu.
  145. Jaringan dan arsitekturnya,
  146. rusak.
  147. Sistem respons stres anak itu terpengaruh.
  148. Faktor-faktor pelindungnya
    semakin lemah.
  149. Wilayah otak yang
    berkaitan dengan kognisi,
  150. kemampuan intelektual,
  151. pertimbangan, kepercayaan,
    pengelolaan diri, interaksi sosial,
  152. semakin lemah, terkadang
    secara permanen.
  153. Ini merusak masa depan anak-anak.
  154. Kita juga tahu di bawah stres,
    sistem imun anak juga tertekan,
  155. menjadikan mereka rentan terhadap infeksi.
  156. Penyakit kronis, seperti diabetes,
    asma, penyakit kardiovaskular,
  157. akan memburu anak-anak itu saat dewasa,
    dan mungkin mempersingkat umur mereka.
  158. Masalah kesehatan mental juga terkait
    dengan rusaknya tubuh.

  159. Saya pernah melihat anak-anak di detensi
  160. yang berulang kali mengalami
    mimpi buruk,
  161. ketakutan di malam hari,
  162. depresi dan kegelisahan,
  163. reaksi disosiatif,
  164. keputusasaan, pemikiran bunuh diri,
  165. serta gangguan stres pascatrauma.
  166. Dan perilaku mereka semakin merosot,
  167. seperti bocah 11 tahun
  168. yang mulai mengompol lagi setelah
    bertahun-tahun bisa tahan.
  169. Dan gadis delapan tahun
    yang ambruk di bawah tekanan
  170. dan berkeras minta
    menyusu pada ibunya.
  171. Inilah dampak detensi
    terhadap anak-anak.
  172. Sekarang, Anda mungkin bertanya:

  173. Apa yang akan kita lakukan?
  174. Apa sebaiknya langkah pemerintah?
  175. Saya hanya seorang pakar
    kesehatan mental,
  176. jadi saya hanya tahu tentang
    kesehatan dan perkembangan anak.
  177. Tapi saya punya ide.
  178. Pertama, kita perlu menata ulang
    praktik kita.

  179. Kita perlu mengganti ketakutan
    dan kebencian
  180. dengan keamanan dan kasih sayang.
  181. Kita perlu merobohkan tembok penjara,
  182. kawat duri, menyingkirkan kerangkeng.
  183. Alih-alih penjara,
  184. sebaiknya kita membuat pusat
    pengelolaan suaka yang teratur,
  185. komunitas mirip kampus
  186. tempat anak-anak dan keluarga
    bisa hidup bersama.
  187. Kita bisa memanfaatkan motel lama,
    barak tentara lama,
  188. merenovasinya agar anak-anak dan
    orang tua dapat hidup sebagai keluarga
  189. dalam suasana aman dan normal,
  190. tempat anak-anak bisa berlarian.
  191. Di pusat pengelolaan ini,
  192. dokter anak, dokter keluarga,
  193. dokter gigi, dan perawat,
  194. akan memonitor, memeriksa,
  195. mengobati, mengimunisasi
    anak-anak
  196. membuat riwayat kesehatan untuk
    keperluan medis mereka berikutnya.
  197. Pekerja sosial akan mengevaluasi
    kesehatan mental
  198. dan menyediakan perawatan
    bagi yang membutuhkannya.
  199. Pekerja sosial akan
    menghubungkan keluarga
  200. dengan layanan yang mereka
    butuhkan, ke mana pun tujuan mereka.
  201. Guru akan mengajar
    dan mengetes anak-anak
  202. dan mendokumentasikan
    pelajaran mereka
  203. agar para guru di sekolah berikutnya
  204. dapat melanjutkan pendidikan
    anak-anak itu.
  205. Masih banyak yang bisa kita lakukan
    di pusat pengelolaan ini.
  206. Masih banyak.
  207. Dan Anda barangkali berpikir,

  208. ini seperti
    mimpi di siang bolong.
  209. Saya bisa maklum.
  210. Begini, banyak kamp pengungsi
    di seluruh dunia yang menampung keluarga
  211. seperti pusat detensi kita,
  212. dan sebagian kamp pengungsi
    ini bertindak benar
  213. jauh melebihi kita.
  214. PBB telah mengeluarkan laporan
    tentang kamp pengungsi
  215. yang melindungi kesehatan
    dan perkembangan anak.
  216. Anak-anak dan orang tua
    tinggal sebagai satu keluarga
  217. dan beberapa keluarga
    ditempatkan dalam satu rumah.
  218. Orang tua diberikan izin kerja
    agar mereka bisa mencari uang,
  219. mereka mendapat kupon makanan
    untuk digunakan di toko setempat.
  220. Para ibu berkumpul untuk memasak
    makanan sehat bagi anak-anak,
  221. dan anak-anak bersekolah
    dan belajar setiap hari.
  222. Setelah itu, seusai sekolah,
    mereka pulang dengan bersepeda,
  223. berkumpul dengan teman-teman,
    membuat PR, dan mengeksplorasi dunia.
  224. Semua yang esensial
    bagi perkembangan anak.
  225. Kita bisa bertindak benar.
    Kita punya sumber daya untuk itu.
  226. Yang kita butuhkan hanyalah
    kemauan dan desakan warga AS
  227. agar kita merawat anak-anak
    secara manusiawi.
  228. Anda tahu, saya tak bisa
    melupakan Danny atau Fernando.

  229. Saya penasaran di mana
    mereka sekarang,
  230. dan saya berdoa agar
    mereka sehat dan bahagia.
  231. Mereka dua dari banyak
    anak yang saya temui
  232. dan dari ribuan yang kita tahu
    berada di detensi.
  233. Saya mungkin sedih
  234. atas apa yang terjadi
    pada anak-anak itu,
  235. tapi saya terinspirasi
    oleh mereka.
  236. Saya mungkin menangis,
    dan memang sudah,
  237. tapi saya mengagumi
    kekuatan anak-anak itu.
  238. Mereka terus menghidupkan harapan
    dan optimisme saya dalam bekerja.
  239. Jadi, walau pendekatan kita
    terhadap imigrasi berbeda,

  240. kita mesti memperlakukan anak-anak
    dengan hormat dan martabat.
  241. Kita mesti adil
    kepada mereka.
  242. Jika kita melakukannya,
  243. kita bisa menyiapkan anak-anak
    yang menetap di Amerika Serikat
  244. menjadi anggota masyarakat
    yang produktif dan berkomitmen.
  245. Dan anak-anak yang kembali ke negara
    mereka, secara sukarela atau tidak,
  246. akan disiapkan menjadi guru,
    pedagang, pemimpin
  247. di negara mereka.
  248. Dan saya berharap, bersama-sama
    semua anak dan orang tua itu
  249. bisa memberi kesaksian kepada dunia
    tentang kebaikan negara kita
  250. dan nilai-nilai kita.
  251. Tapi kita harus bertindak benar.
  252. Jadi kita bisa bersepakat untuk
    tidak sepakat soal imigrasi,

  253. tapi saya harap kita bersepakat
    untuk satu hal:
  254. bahwa kita tak ingin mengingat
    momen ini dalam sejarah kita,
  255. ketika kita tahu kitalah penyebab
    trauma seumur hidup pada anak-anak,
  256. dan kita hanya berpangku tangan.
  257. Itu mungkin tragedi terbesar
    yang pernah ada.
  258. Terima kasih.

  259. (Tepuk tangan)