Indonesian subtitles

← Bisakah breathalyzer mendeteksi penyakit kanker? - Julian Burschka

Get Embed Code
22 Languages

Showing Revision 5 created 02/12/2020 by Ade Indarta.

  1. Bagaimana bisa breathalyzer mengukur
    kadar alkohol dalam darah seseorang,
  2. bahkan selang berjam-jam setelah mabuk,
    dari hembusan napasnya saja?
  3. Hembusan napas mengandung
    sejumlah jejak

  4. dari ratusan bahkan ribuan
    senyawa organik yang mudah menguap,
  5. yakni molekul-molekul kecil dan ringan
    yang dapat bergerak bebas seperti gas.
  6. Salah satunya ialah etanol, yang memasuki
    tubuh saat mengonsumsi minuman beralkohol.
  7. Molekul ini bergerak melalui aliran darah
    menuju kantung udara kecil pada paru-paru,
  8. kemudian dilepaskan dalam hembusan napas
    dengan konsentrasi 2.000 kali lebih rendah
  9. secara rata-rata,
    dibandingkan di darah.
  10. Jika seseorang menghembuskan
    napas ke breathalyzer,
  11. etanol pada napasnya
    akan menuju bejana reaksi.
  12. Molekul ini akan diubah
    menjadi molekul lain, yakni asam asetat,
  13. dalam suatu reaktor khusus yang dapat
    menghasilkan arus listrik saat bereaksi.
  14. Nilai arus yang dihasilkan
    mengindikasikan kadar etanol
  15. pada sampel udara,
    sekaligus dalam darah orang tersebut.
  16. Selain senyawa organik volatil,
    seperti etanol tadi,

  17. yang masuk ke tubuh
    dari makanan serta minuman,
  18. proses biokimia pada sel-sel kita
    juga menghasilkan senyawa volatil lainnya.
  19. Jika sesuatu mengganggu proses ini,
    katakanlah suatu penyakit,
  20. kumpulan senyawa organik volatil
    pada hembusan napas kita
  21. juga dapat berubah.
  22. Maka, dapatkah kita mendeteksi penyakit
    dengan menganalisis hembusan napas,
  23. tanpa menggunakan
    alat diagnosa yang lebih invasif
  24. seperti biopsi, uji darah,
    dan penggunaan radiasi?
  25. Secara teoritis, bisa saja,

  26. namun, pengujian penyakit jauh lebih rumit
    daripada uji kadar alkohol.
  27. Untuk mengidentifikasi penyakit,
  28. peneliti harus mendeteksi puluhan senyawa
    sekaligus dari hembusan napas.
  29. Suatu penyakit bisa menyebabkan
    sebagian senyawa tertentu
  30. meningkat atau menurun konsentrasinya,
    sedangkan senyawa lain tidak berubah.
  31. Profil senyawa ini kemungkinan
    berbeda-beda untuk setiap penyakit,
  32. dan bahkan dapat bervariasi tergantung
    tingkat keparahan suatu penyakit.
  33. Misalnya, kanker adalah kandidat
    yang paling banyak diteliti

  34. untuk didiagnosis
    melalui analisis hembusan napas.
  35. Salah satu perubahan biokimia
    yang disebabkan oleh tumor
  36. ialah peningkatan yang besar
    pada proses produksi energi
  37. yang disebut glikolisis.
  38. Efek ini dikenal dengan
    Warburg Effect.
  39. Peningkatan glikolisis menyebabkan
    meningkatnya metabolit seperti asam laktat
  40. yang dapat memengaruhi
    keseluruhan proses metabolisme
  41. dan sangat memengaruhi
    perubahan kandungan napas,
  42. yang mungkin mencakup
    peningkatan senyawa volatil
  43. seperti dimetil sulfida.
  44. Namun, Efek Warburg ini hanya satu
    potensi indikator dari aktivitas kanker,
  45. dan tidak menunjukkan jenis kankernya.
  46. Maka, diperlukan lebih banyak lagi
    indikator untuk melakukan diagnosis.
  47. Supaya lebih mudah dibedakan,

  48. peneliti membandingkan
    hembusan napas manusia sehat
  49. dengan hembusan napas
    manusia yang mengidap penyakit tertentu
  50. menggunakan profil senyawa
    berdasarkan ribuan sampel hembusan napas.
  51. Analisis rumit ini membutuhkan
    tipe sensor yang berbeda
  52. dan lebih serba guna
    dibandingkan breathalyzer alkohol.
  53. Hingga saat ini,
    beragam alat dikembangkan.
  54. Beberapa alat membedakan
    masing-masing senyawa
  55. dengan mengamati bagaimana senyawa
    bergerak melalui rangkaian arus listrik.
  56. Alat lainnya menggunakan rangkaian
    penghambat dari beragam material
  57. yang masing-masing akan mengubah
    nilai hambatannya
  58. jika mengalami kontak dengan campuran
    senyawa organik volatil tertentu.
  59. Selain itu, terdapat tantangan lain,

  60. yaitu senyawa-senyawa ini terdeteksi
    dalam konsentrasi yang sangat rendah,
  61. dalam kisaran
    bagian per miliar (bpm),
  62. jauh lebih rendah lagi
    dari konsentrasi etanol dalam napas.
  63. Kadar senyawa-senyawa ini dapat
    dipengaruhi oleh faktor selain penyakit,
  64. termasuk umur, jenis kelamin,
    nutrisi yang dikonsumsi, serta gaya hidup.
  65. Terakhir, terdapat masalah
  66. dalam membedakan senyawa pada sampel
  67. yang dihasilkan oleh tubuh pasien sendiri
  68. atau yang dihirupnya dari lingkungan
  69. sebelum pengujian napas dilakukan.
  70. Dikarenakan beragam tantangan di atas,
    uji hembusan napas belum siap digunakan.

  71. Namun, uji klinis awal
    pada kanker paru-paru, usus besar,
  72. serta kanker jenis lainnya
    telah menunjukkan hasil yang menjanjikan.
  73. Suatu hari nanti, mendeteksi kanker
    sedini mungkin akan semudah bernapas.