Indonesian subtítols

← Makna kehidupan menurut Simone de Beauvoir - Iseult Gillespie

Obtén el codi d'incrustació
28 llengües

Showing Revision 8 created 03/24/2020 by Ade Indarta.

  1. Di umur 21 tahun, Simone de Beauvoir
    menjadi orang termuda
  2. yang mengikuti ujian filsafat di
    universitas paling terkemuka di Prancis.
  3. Dia lulus dengan gemilang.
  4. Namun setelah ia menguasai aturan-aturan
    dalam ilmu filsafat,
  5. ia justru ingin mendobraknya.
  6. Ia dididik dengan Teori Bentuk
    karya Plato,
  7. yang menolak dunia fisik sebagai
    refleksi tidak sempurna dari
  8. kebenaran yang lebih tinggi dan
    idealisme yang tak tergantikan.
  9. Namun untuk de Beauvoir, kehidupan duniawi
    begitu memikat, sensual,
  10. dan segala hal selain statis.
  11. Hasratnya untuk mengeksplorasi dunia fana
    sejauh mungkin akan membentuk hidupnya,
  12. dan pada akhirnya menginspirasi lahirnya
    sebuah filsafat baru yang radikal.
  13. Selalu berdebat dengan pasangannya,
    Jean Paul Sartre,
  14. de Beauvoir mengeksplorasi keinginan
    bebas, kehendak, hak dan kewajiban,

  15. dan keutamaan dari pengalaman pribadi.
  16. Beberapa tahun setelah Perang Dunia II,
  17. gagasan-gagasan ini mengerucut
    ke dalam aliran filsafat
  18. yang paling erat kaitannya dengan karya
    mereka: eksistensialisme.
  19. Saat tradisi Kristen-Yahudi
    mengajarkan bahwa
  20. manusia dilahirkan dengan tujuan,

  21. de Beauvoir dan Sartre
    mengajukan alternatif yang revolusioner.
  22. Menurut mereka, manusia
    dilahirkan dengan bebas,
  23. dan hidup tanpa rencana apa pun
    dari Sang Pencipta.
  24. De Beauvoir mengakui bahwa kebebasan ini
    merupakan berkah sekaligus beban.
  25. Dalam "The Ethics of Ambiguity", ia
    menuliskan kewajiban utama manusia
  26. adalah menciptakan arti kehidupan
    kita masing-masing,
  27. dan melindungi kebebasan orang lain
    untuk melakukan hal yang sama.
  28. Mengutip de Beauvoir,
  29. "Kebebasan yang hanya tertarik dalam
    menolak kebebasan, harus ditolak"
  30. Filosofi ini menantang murid-muridnya
    untuk mengatasi ambiguitas dan konflik
  31. yang tercipta dari hasrat kita, baik dari
    dalam maupun dari luar diri sendiri.

  32. Dan seiring dengan pencarian tujuan
    hidupnya sendiri,
  33. De Beauvoir mulai mempertanyakan:
  34. jika setiap orang berhak dengan bebas
    mencari arti kehidupan,
  35. mengapa dia dibatasi oleh idealisme
    masyarakat tentang kaum wanita?
  36. Meski tulisan, kegiatan mengajar,
    dan aktivismenya,
  37. de Beauvoir mesti berjuang agar dianggap
    serius oleh sesama rekan prianya.

  38. Dia menolak cara pengasuhan Katolik
    serta harapan orang untuk menikah
  39. demi belajar di universitas dan menulis
    memoar, fiksi, serta filsafat.
  40. Tetapi risiko yang diambilnya
    dengan gaya hidup tersebut
  41. tak dapat dimengerti
    rekan-rekan prianya,
  42. yang memperoleh kebebasan
    tanpa perlu perjuangan.
  43. Mereka tidak memiliki minat intelektual
    atas karya de Beauvoir,
  44. yang menyelami kehidupan
    pribadi wanita,
  45. termasuk hubungan terbuka
    dan biseksualitas sang penulis.
  46. Demi menyampaikan betapa penting
    segi pandangnya,
  47. De Beauvoir mulai menulis bukunya
    yang paling menantang.
  48. Dia menciptakan dasar-dasar
    eksistensialisme
  49. dan mendefinisikan kembali batasan
    jenis kelamin.
  50. Diterbitkan tahun 1949, "The Second Sex"
    mengemukakan bahwa seperti tujuan hidup,
  51. jenis kelamin tidak ditentukan dari awal.

  52. Seperti tulisan de Beauvoir yang terkenal,
  53. "seseorang tak dilahirkan menjadi wanita,
    melainkan tumbuh menjadi wanita".
  54. Dan "tumbuh menjadi" wanita, menurutnya,
    adalah menjadi "Orang Asing".
  55. De Beauvouir mendefinisikan Pengasingan
    sebagai proses melabelkan wanita
  56. lebih rendah dari pria, yang secara
    historis telah didefinisikan sebagai
  57. subyek manusia yang ideal.
  58. Sebagai "Orang Asing", ia berpendapat
    bahwa wanita diposisikan setelah pria,
  59. oleh karena itu secara sistematis dibatasi
    dalam mengejar kebebasan.
  60. "The Second Sex" menjadi suatu
    risalah feminis yang penting,
  61. berisi rincian sejarah penindasan
    kaum wanita

  62. dan sejumlah kesaksian singkat.
  63. Gabungan antara pengalaman
    pribadi dalam "The Second Sex"
  64. dengan intervensi filsafat
  65. menyediakan struktur baru untuk
    membahas teori feminis.
  66. Saat ini, diskusi akan hal tersebut masih
    diilhami oleh keyakinan De Beauvoir
  67. bahwa dalam upaya mengejar kesetaraan,
  68. "tidak ada pemisahan antara filsafat
    dan kehidupan".
  69. Tentu saja, seperti karya
    mendasar lainnya,
  70. gagasan dalam "The Second Sex" telah
    jauh berkembang semenjak dipublikasikan.

  71. Banyak pemikir modern yang mengeksplorasi
    bentuk lain pengasingan seseorang
  72. yang tidak diketahui de Beauvoir.
  73. Antara lain identitas ras dan
    golongan ekonomi,
  74. serta beragam jenis kelamin dan identitas
    seksual yang kita kenal saat ini.
  75. Hasil pemikiran de Beauvoir ini
    menjadi semakin rumit
  76. dengan adanya tuduhan pelecehan seksual
    dari dua orang murid di universitasnya.

  77. Akibat tuduhan ini,
  78. izin mengajarnya dicabut karena
    penyalahgunaan kekuasaan.
  79. Dalam hal ini dan lainnya, kehidupan
    de Beauvoir tetap kontroversial—
  80. dan karyanya mewakili momen perselisihan
    di awal munculnya feminisme.

  81. Ia terlibat dalam diskusi mengenai hal
    tersebut sepanjang hidupnya;
  82. menulis fiksi, filsafat, dan memoar hingga
    wafat pada tahun 1986.
  83. Saat ini, karyanya menjadi
    struktur filsafat
  84. untuk dikonsep ulang, ditinjau,
    dan ditentang—
  85. reaksi yang mungkin diinginkan oleh
    sang pemikir revolusioner.